Welcome

Selamat Datang di blog saya, blog ini merupakan sebuah blog untuk membahas apapun yang ingin kita bahas tentang informasi apapun.

Rabu, 04 Juni 2008

Memilih Jalan Hidup

Saudara-2ku, sungguh Allah Maha Pemurah, sehingga memberi kita kebebasan, BUKAN untuk bebas-dari, tapi bebas-untuk. Jika Ia seandainya menjadikan kita tanpa kebebasan ini, jailah kita seperti salah seorang hamba-Nya yang berkata, "Karena engkau telah membuatku sesat...", dan ia masih berani pula menambahkan, "Maka aku akan menyesatkan mereka semua." (Duh, moga-2 kutipannya bener. Inilah resiknya kalau jarang membuka Al-Quran).

Bisa kita lihat teman-2 kita yang belum mendapat nikmat petunjuk-Nya yang berkata, "Aku begini karena Allah menghendaki aku seperti ini. Maka, nggak salah dong aku bertindak seperti yang Allah kehendaki?" Na'udzubilah. Jka memang demikian halnya, mengapa Allah melarang 2 org hambanya mendekati Pohon Terlarang, bukankah bisa saja Ia memindahkan mereka berdua dan si Pohon itu ke tempat yang berbeda, atau sekalian aja mereka dibuat nggak doyan makan buah-2an?

Tanpa kebebasan, maka sifat Allah seperti Maha Adil (dalam memutuskan keadilan), Maha Santun (dalam menunda siksa-Nya), Maha Pembalas (perbuatan bak dan buruk), tidak akan dikenal. Demikian pula Maha Pengampun (segala kesalahan), karena manusia tidak akan berbuat salah. Padahal, bukankah salah satu alasan Allah menciptakan manusia adalah karena Ia ingin agar manusia mengenal-Nya?

Ketika Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putranya, ia sempat bimbang, namun tidak mempertanyakan-Nya. Ia bertaat. Kalau kita sempat nonton Xena, mungkin ada yang ingat dialog ini, "Macam apa Tuhanmu itu, masa menyuruh menyembelih anak sendiri?" Bandingkanlah dengan hal ini: Ketika Iblis diminta bersujud, salah satu versi hikayat kejadian ini menuliskan bahwa keengganannya adalah karena ia hanya bersujud kepada-Nya, tidak pada yang lain, termasuk Adam. IA MENGKLAIM BAHWA MESKIPUN ALLAH MEMERINTAHKANNYA BERSUJUD, NAMUN IA MENDUGA BAHWA ALLAH TIDAK BERKEHENDAK DEMIKIAN. Dengan demikian, ia mengabaikan perintah-Nya dan memutuskan untuk mengikuti logikanya sendiri.

Bagi kita, tidak cukupkah ayat-ayat muhkamat, yang jelas-jelas menyatakan bahwa "mendatangi sesama lelaki untuk melampiaskan nafsu" adalah fahisyah, 'perbuatan yang tak perlu diragukan lagi kekejiannya', tanpa memandang apakah kita melakukan sodomi atau yang lebih ringan dari itu. Perlu digarisbawahi, bahwa hubungan seksual yang diridha-Nya hanyalah yang dilakukan dalam ikatan pernikahan Islami, itupun masih denagn sejumalh tata cara bergau dengan pasangannya.

Memang patut disayangkan, bahwa para cendekiawan muslim, dalam setiap pembahasannya mengenai homoseksualitas, masih terhenti pada hukum. Begitu muncul kata dosa, maka segala kemungkinan untuk menyelami lebih jauh pikiran pemilik kecenderungan homoseksual terhenti. Boro-2 mau membahas kemungkinan lainnya, seperti selibat, metode fantasi- masturbasi terbimbing, sikap istri, sikap keluarga, de el el.

Padahal, perkembangan gerakan menuntut hak-hak asasi kaum gay sangat progresif. Masa kita harus ketinggalan, nunggu semua ulama ikut-2an jadi gay? Nah, makanya kita mulai dari group ini, siapa tahu di antara kita ada cendekiawan yang mau mengangkat issue ini.

Menutup uraian singkat (yg terlalu panjang ini), ijinkan saya menggarisbawahi bahwa meskipun kita terkurung dalam sangkar keterbatasan kita (arah dorongan seksual, arah kebutuhan emosional), namun kita masih diberi-Nya kebebasan untuk bersikap, berpendirian, menentukan siapa jati diri kita, dan mengharapkan ridho-Nya. Masa, hanya karena kita punya kecenderungan homoseksual, terus otomatis kita adalah gay? Memiliki arah dorongan seksual tertentu tidak menjadikan kita otomatis pasti melakukannya sesuai dengan itu, 'kan?

Nah, di sinilah letak kebebasan kita dalam memilih: UNTUK TIDAK MENYERAH PADA DORONGAN NAFS (JIWA) KITA. Berbau utopia? Ya kali, ya. Tapi, semua orang butuh bermimpi, apalagi mimpi yang aik. Mumpung belum dikenai tarif...

Tidak ada komentar: